안녕하세요^^!!

안녕하세요 ^^!!
Welcome to my blog!!
Ryeowook and Yoseob's biased!!

Selasa, 28 Agustus 2012

LOTUS

DARK GREY OCEAN PROUDLY PRESENT
...LOTUS...
Happy Reading^^

Title       : Lotus
Author  : helloimiga
Length  : oneshoot
Genre   : Romance, AU
Rate       : PG 14
Cast       : Lee Gikwang (Beast), Park Buyoung (OC)
Point of view     : Author
Original Sound Track      : Juniel – illa illa, Super Junior - Someday

WARNING!! GAJE, TYPO BERMUNCULAN SETIAP SAAT!!

Cinta pertama itu bukanlah cinta saat jumpa pertama, tetapi cinta pertama adalah cinta yang paling banyak meninggalkan kenangan cinta..

Manik mata namja itu terlihat berputar putar. Menaikkan sudut bibirnya keatas. Menampakkan senyum khas-nya. Masih sama seperti hari hari yang telah ia lewati. Gikwang, laki laki itu masih setia untuk diam diam memperhatikan seorang perempuan di toko bunga itu.
                “yeppeo….” bisiknya kecil.
Akhirnya setelah mengumpulkan keberaniannya, Gikwang berani masuk ke florist itu. Menimbulkan suara TING…yang cukup keras saat dia membuka pintu kaca dan membuat yeoja dibalik mesin kasir itu menundukkan tubuhnya dalam dalam.
Tidak ada sepatah katapun saat itu. Gikwang hanya berdiri diam didepan perempuan yang ada didepannya itu. Diam diam Kagum dengan kecantikan perempuan manis dihadapannya. Dan sepertinya perempuan yang ada didepannya tidak berniat untuk mengeluarkan sepatah katapun. Bukan karena dia tidak mau, tapi karena dia tidak bisa..

                “ahhh…mianhae…” akhirnya namja manis itu bersuara. Dan perempuan didepannya hanya membalas dengan senyum, menimbulkan lesung yang manis di kedua pipinya.
                “kau bisa memberikanku satu bouquet bunga lily?” perempuan didepan Gikwang mengangguk antusias… berjalan meninggalkan Gikwang dengan sedikit terburu buru lalu kembali dan memberikan satu bouquet lily.
                “terimakasih….” Balas Gikwang, dan selanjutnya dia menyerahkan kembali bunga itu pada gadis pemilik florist.
                “untukmu….” Serunya kemudian. Membuat beberapa kerutan terpampang jelas di dahi Park Buyoung, gadis dihadapan Gikwang itu. Dan akhirnya Buyoung mengambilnya. Membungkukkan kepalanya. Tersenyum dan menggerak gerakkan jarinya dihadapan Gikwang…..(terimakasih)
               “ahhhh siapa namamu?” Tanya Gikwang kemudian. Buyoung tersenyum. Mengambil bunga di bawah mejanya dan memberikan kepada Gikwang.
               “eunggg?? Bunga teratai….??” Buyoung tersenyum manis. Sedikit menampakkan giginya. Mungkin jika dia bisa berbicara saat ini dia pasti sedang terkekeh geli. Dan selanjutnya gadis itu mengibas ngibaskan tangannya. Mengambil secarik kertas dan pena.
               “Lotus? Jadi ini bukan bunga teratai tapi ini bunga Lotus? Begitukah?” Seru Gikwang saat dia membaca tulisan di kertas yang disodorkan Buyoung, dan terpampang jelas tulisan lotus disana. Buyoung mengangguk dan kemudian tersenyum manis dihadapan Gikwang, membuat namja dihadapannya sedikit salah tingkah.

               “lalu apa hubungannya dengan..mmmm…..namamu?” Buyoung tersenyum. Dan Gikwang tau arti senyuman itu. Perempuan itu  sedang berbicara ……‘carilah artinya sendiri’


Laki laki itu masih terlarut dalam pikirannya. Apa hubungan gadis itu dengan bunga ini? Gadis Lotus? Apakah aku harus memanggilnya dengan itu? Pikir Gikwang. Dia masih memandang bunga air yang ia kira teratai itu. Lotus berwarna merah itu sudah dia masukkan kedalam vas dan dia pajang disamping tempat tidurnya.
                “Gadis Lotus? Hahahaha…” tawanya kemudian. Sampai sebuah ketukan membuyarkan tawanya.
                “Hyeyeon?”
                “oppa….” Hyeyeon, gadis cilik itu berjalan cepat kearah kakak kandungnya –Gikwang. Menyodorkan setangkai bunga lily putih kehadapan Gikwang…
                “untukku?” Tanya Gikwang

                “aisshhh….bukan oppa….kau tahu apa arti bunga lily?” Gikwang mengerutkan keningnya. Lalu tersenyum manis. Mengacak acak pucuk rambut yeodongsaeng-nya itu.
                “lily putih?Aku tidak tahu…” hyeyeon mendelik kesal…menghentakkan kakinya beberapa kali lalu meninggalkan Gikwang sendiri. Dan selanjutnya menutup pintu kamar dengan cukup keras. Gikwang tersenyum. Lalu manik matanya menatap bunga Lotus yang ada disampingnya. Menutup matanya, merasakan bagaimana perasaannya saat ini…
                “aku tidak tahu apa arti bunga lily itu….tapi yang aku tahu bunga itu cantik,…dan itu seperti dirimu….”

Aku tahu, kau memang seperti Lotus. Kecil, manis, Cantik, dan Indah.. 

Buyoung menatap laki laki dihadapannya dengan raut bingung…Laki laki itu datang lagi. Namun akhirnya Buyoung menyunggingkan senyumnya.
                “aku ingin satu bouquet bunga Daisy… Daisy merah…” Buyoung tersenyum ramah. Meninggalkan Gikwang sebentar lalu kembali dengan satu bouquet Daisy merah. Gikwang mengambilnya. Menyerahkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya.

                “terimakasih…” dan kembali, seperti biasanya. Buyoung menundukkan badannya dalam dalam –tanda terimakasihnya. Dan saat badannya tegak kembali, Gikwang sudah pergi dan apa yang di lakukan laki laki itu? Dia meninggalkan satu bouquet Daisy-nya. Dengan sepucuk kertas diatasnya..

‘Daisy merah –kecantikan yang tidak diketahui pemiliknya…dan ini untukmu, gadis Lotus’

Perempuan itu tersenyum hambar. Dia ingin berteriak saat ini juga. Sebutir air mata turun menghiasi pipi putihnya. Sudah lama saat ada orang yang memujinya cantik. Sudah lama sejak orangtuanya meninggal Tiga tahun yang lalu, sebuah kecelakaan yang membuat orang tuanya pergi dari sisinya. Dan sebuah kecelakaan yang membuat dirinya tidak bisa berbicara selamanya...
Gadis Lotus? Jadi laki laki itu belum tahu namaku? Pikirnya. Sekali kali dia menghirup harum bunga Daisy dari Gikwang itu. Ini Lucu, dia tidak tahu nama laki laki itu dan dia juga tidak tahu namanya….


Gikwang datang malam harinya.. dengan sebatang Lotus ditangannya. Seperti biasa suara ‘Ting!’ Berbunyi saat dia membuka pintu toko. Dan Buyoung, dia menundukkan badannya. Hening….bukannya berbicara Gikwang malah diam didepan kasir.
Menatap wajah Buyoung  yang ada dihadapannya. Menatap wajah itu yang menurutnya sangat cantik. Dengan bulu matanya yang lentik. Hidung yang mancung, bibir yang mungil dan berwarna cherry itu. Tidak diragukan semua yang melekat pada wajah gadis itu sungguh sempurna dan tidak ada cacatnya di mata Gikwang...

Dan Buyoung, gadis cantik itu juga masih menatap Gikwang. Heran dengan laki laki dihadapannya ini. bukankah tadi pagi dia sudah datang kemari? Lalu untuk apa lagi dia datang? Beberapa pertanyaan muncul dalam benaknya. Membuatnya harus menebak nebak laki laki yang tidak dia kenalnya itu selalu mampir ke toko bunganya
                “ehmmm....” Gikwang bersuara. Membuatnya terlihat lucu sekarang. Dengan wajah yang aneh dan ditambah dengan tingkahnya. Dia seperti bukan Gikwang yang seperti biasanya.

                “ini...untukmu....” setangkai lotus. Buyoung menatap heran Gikwang lalu melengkungkan bibirnya, menampakkan senyum indahnya. Menggerak gerakkan jarinya membuat laki laki dihadapannya bingung....
                “mmm...kau ber..bicara apa?” tanya Gikwang malu malu. Dan senyum lagi yang didapati Gikwang dari wajah Gadis Lotus-nya itu. Melihat gadis itu mengambil secarik kertas dan pena...
(terimakasih..)
                “eungg....terimakasih....” Buyoung menganggukkan kepalanya. Lalu menyodorkan secarik kertas yang baru saja dia tulis kepada Gikwang
(kenapa kau masih memanggilku dengan gadis lotus?)

Gikwang tersenyum. Dia menarik kursi yang tidak jauh darinya lalu duduk dihadapan meja kasir. Buyoung membuat hidupnya berbeda. Gadis yang lucu—menurutnya. Dengan semua kepolosan yang ada didirinya. Kekurangan yang ada pada gadis itu malah membuat Gikwang takjub. Gadis Lotus-nya yang benar benar hebat.

Gikwang rindu dengan sosoknya saat ini. Dia rindu dengan masa masanya yang penuh ketenangan –tidak seperti sekarang. Saat masih ada orang yang menganggapnya seperti manusia biasa, manusia yang lainnya. Bukan seseorang yang selalu menganggapnya seperti pangeran. Hidupnya memang serba berkecukupan bahkan mungkin dia tidur dan tidak bekerja beberapa tahun pun dia tidak akan mudah jatuh miskin, tapi semuanya itu membuat dirinya berbeda... yaah...dia merindukan kehidupannya yang dulu. Berkumpul dengan keluarganya, tertawa, sarapan, makan siang, makan malam, dan semuanya. Namun sekarang hanya bertatap muka saja mereka sudah jarang.

                “haaahhh.....” mengambil nafas berat lalu mengeluarkannya pelan pelan. “karena aku belum tau namamu gadis Lotus....dan, ehmmm....kau seperti lotus....cantik dan menawan...”
Semburat merah menghiasi pipi gadis dihadapan Gikwang detik itu juga, tersenyum tipis sambil menyematkan jari jarinya kerambut sebahunya. Gikwang tersenyum lucu, gadis ini sungguh menawan, dengan semua sifat yang ada pada dirinya –walaupun sebenarnya Gikwang tidak mengenal gadis manis itu.
                “kau malu?” menatap wajah Gikwang dengan alisnya yang saling bertautan. Laki laki ini sungguh frontal. Batin Buyoung. Mengibas ngibaskan kedua telapak tangannya dihadapan Gikwang. Walaupun terlihat jelas di wajah Buyoung....dia....malu...

                “apa yang paling kau suka?” bersuara dengan masih menatap wajah Buyoung. Sadar dengan pertanyaan menggantungnya dan wajah bingung yang terukir jelas di wajah Buyoung, Gikwang cepat cepat meralat ucapannya
                “maksudku bunga bunga ini...yang paling kau suka....errr....begitu maksudku...” menggaruk garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Lalu menatap antusias Buyoung saat gadis itu berusaha berpikir. Lalu memberikan bunga Lotus dibawah mejanya kepada Gikwang
                “Lotus? Jadi kau suka Lotus...?? aisshhh namamu adalah sesuatu yang berhubungan dengan Lotus dan kau juga suka bunga ini??” Buyoung mengangguk anggukkan kepalanya. Lalu menunjuk depan tokonya. Terpampang jelas disana nama toko bunganya.....’Lotus’
                “ahhh....dan nama tokomu juga Lotus?? Kk....kau benar benar gadis Lotus...”

...

Bahkan ketika aku melihatmu aku masih merindukanmu.. 

Namja itu masih berkutat dengan foto foto dihadapannya. Tidak peduli dengan suasana gelap dikamar besarnya karena asal cahaya hanya dari lampu meja dan komputer jinjing dihadapannya. Tersenyum manis sambil mengusap usap foto itu.

                “hah....aku harus tahu namamu.......” desahnya kecil. “mmm...secepatnya...” sambungnya lagi.
Gikwang, laki laki itu. Menutup komputer jinjingnya lalu beranjak dari kursinya. Menatap foto foto Gadis Lotus-nya yang diam diam dia ambil. Menaruhnya dikotak kecil berwarna biru dimeja samping tempat tidurnya.
                “aku sudah lama mengagumimu dan baru muncul dihadapanmu akhir akhir ini.....dan sekarang aku harus aahhhh.....” memotong ucapannya dengan desahan kecil yang keluar dari bibir manisnya. Tersenyum miris pada dirinya sendiri. Mengutuk dirinya sendiri.
“Seharusnya aku berkenalan denganmu sejak dulu...sejak awal kita bertemu...”

...
-flashback-

                “Aku tidak suka hujan....” desis seorang namja. Menghentak hentakkan kaki kirinya kecil sambil sekali kali membenarkan blazer senior high schoolnya.
                “aku suka hujan....” seorang gadis kecil dengan seragam sama seperti Gikwang keluar dari sebuah toko bunga –tempat dimana Gikwang berteduh karena hujan.
                “aku tidak bertanya denganmu....”
                “mwo??? Aisshhh.....dasar...” mencibir kesal Gikwang. Lalu merogoh sesuatu didalam saku rok-nya.
                “sapu tangan?? Kenapa kau memberikan sapu tangan ini untukku? Apakah kau pikir aku ingin menangis??” balas Gikwang datar. Membuat Gadis dihadapannya bergumam tidak jelas –kesal dengan ucapan Gikwang. Lalu terlihat menarik nafasnya berat dan melepasnya tiba tiba.
                “apakah kau pikir aku akan membiarkan seseorang mimisan didepan toko bunga milik ibuku??” Gikwang cepat cepat menghapus darah dibawah hidungnya cepat cepat. Aisshhh selalu seperti ini, setiap dia kedinginan pasti selalu mimisan....

                “yaaa....lihatlah !!! aisshh kau membuat tanganmu kotor....” gadis manis itu menarik paksa tangan Gikwang. Membersihkan darah yang mengotori tangannya. Bergumam gumam tidak jelas.
                “aku suka hujan, walau aku tahu...saat hujan aku pasti juga sepertimu. Mimisan, karena aku tidak tahan dingin.” Menatap rintik rintik hujan yang jatuh berirama didepannya. Tersenyum manis didepan Gikwang membuat laki laki itu sedikit salah tingkah

                “saat aku melihat air air itu turun, kau akan merasakan semua bebanmu itu hilang terbawa hujan. Dan saat kau melihatnya kau seperti kembali kemasa lalu, mengingat kenangan kenangan yang sebenarnya tidak ingin kau ingat. Kau memang membenci hujan, tapi kau tidak akan pernah bisa benar benar membenci hujan, karena saat kau ingin melihat pelangi kau juga harus melewati hujan....”
Gikwang tersenyum. Mengikuti apa yang dilakukan gadis itu. Menatap rintik rintik hujan didepannya.... karena saat kau ingin melihat pelangi kau juga harus melewati hujan. Laki laki itu suka kalimat itu. Lalu menatap kembali gadis yang ada disampingnya...tersenyum saat gadis itu menatapnya balik.

                “ahhh aku harus pergi.... sampai bertemu lagi...annyeong...” Gikwang menatap punggung gadis itu yang pergi menerobos hujan dengan payungnya. Menatapnya sampai punggung itu hilang di tikungan. Bodoh!! Dia lupa menanyakan nama gadis itu...

-flashback end-
...

Buyoung menatap kaget laki laki dihadapannya.Laki laki ini lagi.. batinnya...Membuatnya tersadar dari lamunannya. namun sesuatu dalam dirinya membuatnya tenang saat laki laki itu dihadapannya. Menatapnya dengan mata hitam legamnya itu. Menatapnya dengan sebuah senyum yang tidak pernah lepas dari wajahnya itu.
                “annyeong Gadis Lotus....” sapa Gikwang, dengan senyum yang menghiasi bibirnya. Dan setangkai bunga lotus digenggamannya. Lalu menatap rintikan hujan dari jendela kaca disamping meja kasir itu.
                “kau, apakah kau sedang menatap hujan? Apakah baru saja kau kembali kemasa lalu? Mengingat kenangan yang sebenarnya ingin kau lupakan??”
Buyoung membulatkan matanya. Dari mana laki laki ini bisa tahu? Gikwang tersenyum. Seperti biasa, menarik kursi disampingnya dan duduk dihadapan Buyoung.
                “aku ingin satu bouquetEdelweis... Buyoung tampak berpikir. Mengambil nafasnya berat lalu menatap Gikwang dengan tatapan menyesal
                “eunggg?? Apakah tidak ada??” mengangguk lalu membungkukkan badannya dalam dalam. Tanda minta maafnya.
                “aahhh sayangnya...tapi tak masalah, kau tidak perlu meminta maaf seperti itu...ahh ya ini untukmu....” menyerahkan setangkai Lotus kepada Buyoung. Sedangkan gadis itu tersenyum terimakasih.

                “Gadis Lotus....kau tahu kenapa bunga Edelweis disebut dengan nama bunga keabadian??” Buyoung memiringkan kepalanya, dia memang sempat memperdalam dunia floriography—bahasa bunga. Namun itu sudah lama sekali dan beberapa kejadian yang membuatnya harus mengurus toko bunga milik Ibunya yang sudah meninggalmembuatnya kehilangan beberapa ingatan tentang arti bunga bunga itu. Hanya sebagian dan itu tidak semuanya

“Edelweis disebut bunga abadi karena bunga ini tidak akan pernah layu tetapi langsung mengering tanpa berubah bentuk dan penampilannya. Bunga ini digunakan sebagai symbol dan keabadian cinta.....” Gikwang tersenyum. Menatap Buyoung yang menatapnya lekat lekat.
“aku tidak tahu apa arti Bunga Lotus itu, tapi aku tahu.....bunga itu (Lotus) pasti memiliki arti yang indah seperti Edelweis....”

...

Tujuh tangkai tulip merah untuk gadis Lotusku... 

Gikwang berlari cepat, dia tidak bisa pergi begitu saja kali ini. tidak sebelum dia bertemu Gadis Lotusnya. Tidak sebelum dia mengungkapkan perasaannya pada Buyoung. Besok dia harus meninggalkan Korea. Melanjutkan pendidikannya yang sempat tertunda. Bunyi Ting berbunyi nyaring. Sorot mata Gikwang tidak lepas dari gadis itu, gadis yang sedang menundukkan badannya dalam dalam itu..
                “Gadis Lotus...” bisiknya pelan. Membuat gadis manis itu menatap Gikwang, menyunggingkan senyum manisnya

                “bi-bisakah kau memberiku bunga Tulip? Tujuh tulip merah...” Berbalik meninggalkan Gikwang lalu datang dengan tujuh tulip merah di keranjang tangannya. Menatanya menjadi bouquet. Lalu menyerahkannya kepada Gikwang. Sedangkan Gikwang malah mengambil beberapa lembar uang di dompetnya tanpa mengambil tulipnya terlebih dahulu
                “tidak, itu untukmu Gadis Lotusku. Tujuh tangkai tulip merah untuk gadis Lotusku...” ucap Gikwang lirih. Menggigit bibir bawahnya. Lalu mendongak menatap Buyoung saat yeoja itu menyerahkan selembar kertas dihadapannya

‘tujuh tangkai tulip merah? Jangan katakan kalau ini mm....deklarasi cinta?’

Buyong meremas ujung ujung bajunya. Sebenarnya dia cukup takut untuk melakukan ini. Dia memang melupakan beberapa ingatan tentang floriography tapi tidak dengan ini. Tulip merah berarti Deklarasi cinta. Tujuh tangkai bunga berarti mencintai... lalu, bukankah laki laki dihadapannya ini benar benar tahu arti bunga ini sebenarnya...
Terkekeh pelan lalu menarik bibirnya keatas. Tersenyum manis.
                “aku memang sedang melakukan itu gadis Lotus...” Gadis itu terlonjak kaget. Tapi wajahnya berubah menjadi serius saat Gikwang juga ikut menulis sesuatu di kertas.

                “jangan membukanya sampai aku benar benar pergi dari toko ini...” ucap Gikwang sambil menyerahkan selembar kertas itu. Lalu pergi dengan tergesa gesa. Dia tidak ingin gadis Lotusnya melihat kalau dia sedang menangis..

‘aku akan pergi melanjutkan pendidikanku, meninggalkan Seoul,meninggalkan kedua orang tuaku, meninggalkan adikku, dan meninggalkan gadis Lotusku sendirian....’

...


Bunga Lotus....kau bisa menyebutkannya dengan nama Buyoung...(Buyoung adalah nama lain dari Lotus). Sering disalah artikan Teratai karena sama sama hidup di air, tapi mereka berbeda. Lotus memiliki mahkota bunga yang lebih lebar dari teratai, memiliki biji, dan daunnya tidak melayang di air seperti Teratai. Lotus adalah bunga yang indah, agar dia hidup dia harus mati dulu agar bijinya jatuh ketanah. Baru setelah itu bunganya akan mekar dengan indah.
Lotus tidak memiliki arti Indah seperti Edelweis, Daisy, Mawar, Matahari, Lily, Tulip, atau bunga yang lain....tapi kau harus tahu Lotus adalah kebenaran....kebenaran sebenarnya kalau aku juga mencintaimu....

...

Someday, we will meet again. Just like this, just like this. Someday, we will meet again. Even though we don’t know where we will goSuper junior, Someday


Ting!! Suara bel selamat datang itu tidak pernah ganti bahkan setelah Lima tahun berlalu. Bahkan yeoja di belakang kasir itu juga tidak pernah berganti dari posisinya, masih dengan hobi yang sama. Menundukkan badannya dalam dalam. Tersenyum ramah hingga kedua lesung pipinya terpampang indah.
                “kau masih suka menundukkan badanmu seperti itu? Aisshh sungguh hobi yang aneh Buyoung-ssi...” Buyoung, yeoja itu membulatkan matanya tidak percaya. Dia tidak sedang bermimpi bukan? Laki laki diepannya ini benar benar laki laki itu bukan??

                “aahh ya, aku sudah mengetahui namamu....Buyoung-ssi” Perempuan itu tersenyum. Menyodorkan kertas yang baru saja dia tulis.

‘apakah kau mencari arti Lotus hingga Lima tahun lamanya?’

Gikwang tertawa. Perempuan didepannya ini tetap sama. Sama seperti gadis Lotusnya lima tahun yang lalu. dan akhirnya mengangguk pasti...

                “yah seperti itulah, Lotus sepertinya bukan bunga yang terkenal....” Buyoung menampakkan deretan gigi gigi putihnya. Tersenyum manis. Lalu sesuatu melintas di ingatannya. Pergi meninggalkan Gikwang lalu kembali dengan tujuh tangkai Tulip. Menyerahkannya kepada Gikwang. Dengan pesan singkat di bawah tangkainya

‘kenapa kau pergi sebelum aku menjawabnya?’

                “karena aku tidak berani melihatmu menangis....atau ahhh kau sudah menangis lima tahun ini?” Buyoung meninju bahu kanan Gikwang pelan. Mencoba menyangkal apa yang dikatakan Gikwang. Mengerucutkan bibirnya kesal. Tapi sungguh, dia memang menangis lima tahun ini
                “tunggu...apakah berarti sekarang kau menerimaku?” semburat warna merah menghiasi pipi gadis itu. Tersenyum lalu menundukkan kepalanya. Hingga ia merasakan kedua tangan Ibum telah memegang lehernya. Membuatnya dia mendongak keatas. Menatap wajah Gikwang yang sangat dekat dengannya itu.
                “Buyoung-a...kau....belum tahu namaku..” Buyoung tersenyum kikuk. Benar, merutuki dirinya sendiri kenapa yang dikatakan laki laki ini selalu benar, dan itu benar benar membuatnya malu saat ini.
                “Gikwang. Lee Gikwang....kau hanya akan memanggilnya seperti itu...”

THE END

[ONESHOOT] Your Letter

Title       : Your Letter
Author  : @_helloimiga
Genre   : Romance, AU
Rate       : Teenager
Length  : Oneshoot
Cast       : Kim Myungsoo, Son Naeun, and other
POV       : Mix(Naeun and Author)
Backsound          : BoA – Only One, Beast – When I Miss you

Happy Reading :D

(Naeun’s POV)

Aku masih terduduk dalam diamku. Menatap lautan Jingga diatasku. Goresan indah itu adalah salah satu ciptaan Tuhan yang paling indah. Menampilkan gradasi warna yang tiada bandingnya. Beberapa kelompok burung melewati atasku menuju laut didepanku. Seperti tertawa saat melihat mahluk Tuhan yang lainnya sedang terdiam sendiri.
Menutup mataku rapat rapat. Lautan nan biru itu sudah berubah menjadi jingga. Menampilkan detik detik terakhir sang Surya dari paraduannya. Aku tertegun saat itu, memori memori dulu bagaikan terputar lagi dalam ingatanku. Tak satupun dari memori itu pudar dan tenggelam bersama masa masa kelam dulu.
Aku meringis kecil. Mengigat bagaimana sesaknya hatiku dulu. Tentang bagaimana cerita cinta itu teputar dalam kehidupanku. Bagaimana cinta itu juga menjadi sebilah pisau yang menggores luka pada hatiku… Walau aku tahu, aku hidup dengan cinta….karena mereka seperti oksigen dalam kehidupanku.

~Your Letter~

Beberapa tahun yang lalu saat aku masih mengenakan seragam Sekolah Menengah Keatasku…

Sayup sayup aku mendengar suaramu, membuat desiran kencang pada hatiku. Aku kini seperti kertas, saat angin datang akan terbang kesana dan kemari….suaramu bagaikan sebuah angin dalam hidupku. Membuat bulu kudukku berdiri hingga kau berhenti pada bait terakhir…
Aku tahu saat itu, kau bukan hanya objek kehidupan dalam hidupku. Kau bagaikan sebuah tambang emas yang setiap orang ingin menginginkannya. Dia tersenyum saat mengakhiri lagunya. Meletakkan gitar kesayangannya kesamping lalu menundukkan badannya.
Sorai sorai dan tepuk tangan menjadi pemandangan sore itu. Laki laki itu memiliki sebuah pesona yang membuat siapa saja akan betekuk lutut.

Saat mata kami beradu pandang saat itu juga, dia tersenyum. Melambaikan tangannya padaku. Aku membalasnya. Terkadang, saat seperti ini aku selalu bersalah pada diriku sendiri. Tak sepantasnya aku memiliki perasaan ini. Perasaan yang membuat persahabatan kami pecah kapan saja. Aku tersenyum samar….. sesakit apa hati itu, aku akan berusaha untuk menutupinya…

                “bagaimana penampilanku tadi?”
                “kau hebat!”
                “bukankah kau juga bisa bernyanyi? Kenapa kau tak mencobanya?”
                “tidak…”

Aku tersenyum kecil saat melihat kerucut kecil dibibirnya. Beberapa kali aku menolak saat dia mengajakku untuk bernyanyi bersamanya. Aku menatap lautan jingga di atasku. Dia menghentikan langkahnya. Mengikuti apa yang aku lakukan.
                “Aku selalu tidak mengerti kenapa kau menyukai hal ini…”

Aku tersenyum simpul, aku memang menyukai saat seperti ini –saat langit biru itu berubah menjadi jingga. Dengan beberapa pesona nan elok yang di ciptakan-Nya.
                “Terkadang aku berpikir aku ingin menjadi burung. Terbang tinggi melintasi garis garis Jingga itu…”
                “burung? Kenapa kau tidak pernah berpikir Naeun-ya? Apakah mereka juga ingin menjadi burung? Harus terbang cepat dan tinggi saat beberapa pemburu datang. Harus mencari tempat tinggal yang baru saat sarangnya rusak. Harus mencari tempat berteduh saat hujan datang…..Kenapa kau tidak berpikir untuk terima kasih kepada Tuhan saat menciptakanmu seperti ini?”

Laki laki itu berjalan menjauhiku. Aku sadar saat itu…kau telah beranjak menjadi seorang laki laki dewasa. Kau bukan hanya menjadi tambang emas saat ini. Kau sudah menjadi emas murni. Hingga siapa saja orang ingin sekali memilikimu.
Punggungnya yang kekar menghilang begitu saja dari manik mataku. Menyisakan siluetnya yang semakin lama menghilang ditikungan. Dia adalah Kim Myungsoo….dia adalah orang yang aku cintai ahhh bukan….dia adalah sahabat terbaikku…


Surat, Bunga dan coklat menjadi isi lokermu pagi itu. Sosok itu menjadi lebih populer saat kami memasuki tahun ke dua sekolah ini. Dan seperti tradisi sekolah ini, kami akan selalu membaca secarik surat yang paling disukai oleh orang yang paling populer disekolah ini.
Myungsoo keluar dari kelasnya saat jam pelajaran telah usai. Menegeluarkan secarik kertas dari sakunya.
                “Apakah itu yang terbaik?” Hyuna, ketua geng sekolah itu mulai bersahut. Seluruh sekolah tahu dia sudah menyukai Myungsoo saat laki laki itu masuk dan bersekolah di tempat ini. Dan sudah menjadi rahasia umum. Setiap pagi dia akan memberikan sebuket bunga, belembar lembar kertas dan coklat yang paling mahal untuk Myungsoo.

Myungsoo bergumam, mengacuhkan pertanyaan Hyuna. Aku terkikik pelan, Myungsoo memang tidak menyukai perempuan itu.

Aku melihatnya dari jarak yang cukup jauh namun masih dapat mendengar suaranya saat membaca bait demi bait surat itu. Aku sedang tidak bermimpi. Telingaku tidak salah menangkap. Sungguh aku mendengar laki laki itu berucap dengan sangat jelas. Surat yang dibacanya adalah surat yang aku berikan untuknya..

                “Aku diam membisu, menatap punggungmu yang pergi menjauh. Kini kau bagaikan permata dengan semua sinar dan pesonamu. Detak jantungku berdetak tidak normal saat kita beradu pandang. Kita bertemu setiap saat. Namun lidahku kelu saat aku ingin mengungkapkannya.
 Tidak peduli semua rintangan yang menghalangiku saat ini. Aku menyelam pada palung yang sangat dalam. Palung cintamu. Aku takut aku tidak bisa kembali ke permukaan. Aku takut saat tabung oksigenku habis…Tapi itu tidak masalah sekarang, Karena aku telah mengungkapkan kalau aku mencintaimu….”

Detak jantungku masih berdetak cepat saat bibirnya mengatup rapat. Dia memasukkan kembali surat itu pada kantung blazer-nya. Berjalan kearahku lalu merangkul punggungku.
                “bagaimana menurutmu??” tanyanya kemudian. Masih dengan tangannya yang bergelayut pada punggungku. Aku menelan ludahku sulit. Laki laki ini membuat desiran pada jantungku semakin menjadi. Aku tersenyum kikuk.
                “a-apa maksudmu….?”
                “tentang surat itu…..bukankah kata katanya sungguh manis.. menurutmu siapa penulisnya…??” Langkah kakiku terhenti saat itu juga. Membuatnya tak urung menatapku binggung. Alis matanya saling bertautan membentuk satu garis lurus.
                “Naeun…apakah kau mendengarku?”
                “a-ahh tentu saja, mmm siapapun dia. Aku yakin dia pasti sangat mencintaimu…”
                “aku tidak peduli dengan cinta. Aku pikir dia adalah wanita gila seperti Hyuna. Aku tidak tertarik dengan wanita seperti itu” Hatiku berlonjak saat itu juga. Setetes air mata itu hampir saja turun kalau aku tidak mencoba menahannya. Punggung laki laki itu masih tetap saja kokoh didepanku. Perlahan namun pasti dia berjalan pergi meninggalkanku.
                “Myungsoo!!! Siapapun dia dan dimanapun dia berada. Seharusnya kau tahu. Dia adalah wanita. Kau bisa saja berbicara dia wanita gila. Tapi dia tetap wanita Myungsoo-ya. Hatinya rapuh. Kau tidak bisa berpendapat dia baik baik saja kapan saja. Mereka mencoba tersenyum bahkan saat hatinya merasa perih sekalipun” Dia berbalik lalu menatapku.
Aku tersenyum. Berbalik lalu meninggalkannya. Aku sedih dan juga senang. Setidaknya secara tidak langsung aku sudah menyatakan perasaanku bukan?


Esok harinya, seperti biasa kami menunggu ‘sang Raja sekolah’ membacakan suratnya. Teriakan wanita tak lepas dari pemandangan hari itu. Aku menajamkan pendengaranku saat Myungsoo mencoba mengucapkan suratnya. Ototku melemas saat itu juga. Dia membaca suratku lagi.
Aku tidak tahu mengapa. Sebuah asa yang selalu aku pendam. Aku tidak pernah mengNaeunpkan sepucuk suratku akan dibaca laki laki itu mengingat aku selalu mengiriminya surat sejak kami duduk dibangku pertama. Setiap hari, hingga sekarang.
               
“Kini aku semakin yakin, langkahmu terlalu lebar bahkan ketika aku sudah mempercepat langkah ini. Lututku lemas. Aku sudah menyerah bahkan ketika aku belum memulainya. Hatiku sesak penuh ribuan bunga saat tahu bait per bait suratku terucap dari bibir indahmu.
                Tapi bunga itu cepat gugur dan layu bahkan sebelum aku melihat keindahannya. Sosokmu yang begitu dingin dan membuatku membeku saat aku mencoba mendekatimu. Kau seperti menolakku, Meninggalkanku……”

Myungsoo memasukkan kembali surat itu pada saku celananya. Aku menatapnya dan sedetik kemudian dia juga menatapku. Dia menatapku dingin. Merundukan kepalaku dalam dalam lalu berjalan pergi meninggalkannya. Saat aku menatapmu, semakin sulit membuatku untuk melepaskanmu saat waktunya telah tiba….

                “Naeun!!!” Aku membalikkan tubuhku, menatap sosoknya yang berlari terengah enggah menuju tempa aku berdiri.
                “A-aku mencintainya….!!!! Aku membaca suratnya berulang ulang dan ada sesuatu yang aku rasakan setiap aku membaca tiap katanya. Ini gila mengingat aku hanya membaca suratnya saja!! Tapi aku benar benar mencintainya Naeun-ya!!! Sungguh!!”
Aku menatapnya sayu. Senang? Tentu saja! Baru saja laki laki yang aku cintai mengungkapkan perasaanya walau tidak langsung. Tapi itu sama saja ketika seseorang yang kau suka tidak tahu bahwa dirimulah orang yang dia maksud. Hatiku sesak, bagaikan di tonjok dan ditampar secara bersamaan.
                “Naeun!! Kau mendengarkanku??”
                “n-ne… tentu saja…” Dia tersenyum. Wajahnya terlihat berbinar binar seolah baru saja mendapatkan sebuah harta karun yang beribu ribu tahun dia cari.
                “Aku Naeunp kau bisa membatuku mencari wanita itu….”


Alunan lagu Only one milik BoA itu terus mengalun. Membuatku tenggelam disetiap baitnya. Didepanku terpampang lautan luas nan Jingga, terpantul dari sang surya yang akan kembali keparaduannya.
                “Aku bisa berlari saat ini juga dan mengatakan semuanya padamu…tapi aku tidak bisa. Aku tidak ingin semua ini berakhir sampai disini. Aku masih ingin melihatmu menatapku dengan wajah berbinar binarmu itu. Aku masih ingin mendengarmu mencurahkan isi hatimu tanpa ada beban sedikitpun…” gumamku. Sedikit melonggarkan dasi sekolah yang aku pakai. Mengingat aku tidak pulang kerumah setelah pulang sekolah dan langsung pergi ke pantai –satu satunya tempat yang dapat membuatku nyaman.

Aku tersenyum simpul. Mengingat kebodohanku untuk mencintai dirinya. Mencintai sosoknya itu. Mungkin saat masa ini bisa diputar, aku akan memilih untuk tidak menjadi seorang yang seharusnya menemani dirinya saat suka maupun duka. Aku tidak ingin menjadi sahabatnya.
Terlalu sakit hatiku, dia memang menyukaiku. Bukan karena diriku. Bukan karena seorang Son Naeun!! Dia menyukaiku sebagai salah satu fansnya yang tiap hari memberinya sepucuk surat dengan kata kata indah disetiap baitnya.

Ponselku bergetar hebat disaku rok-ku. Eummm??? Eomma??

                “eomma….”
                “besok??”
                “secepat itukah….??”
                “arraseo…”

Menatap matahari yang terbenam indah didepanku. Kini langit langit jingga itu telah menghilang bersama matahari. Kelap kelip bintang itu terlihat begitu indah diatasku. Terlihat bahagia saat aku melihatnya. Ya…Bahagia…berlawanan dengan perasaanku saat ini….


Hyeyeon –sahabatku itu masih memegang tanganku kuat kuat. Butiran bening itu sejak tadi sudah meluncur deras dari matanya. Memelukku. Membenamkan wajahnya.
                “Kenapa kau tidak memberitahuku kau akan pindah ke Paris? Apa kau tidak menganggapku sebagai sahabatmu lagi? Siapa yang akan menemaniku menonton Super Junior saat mereka menggelar konsernya? Siapa yang menemaniku berteriak teriak di kelas?? Siapa yang…hiksss…..hyaaaaa Naeun-a…..!!!”
Tangisnya. Mengusap air matanya kasar. Kami memang terlalu lama bersama. Bahkan sebelum diriku mengenal seorang Kim Myungsoo. Hyeyeon, dia adalah satu satunya orang yang mengetahui perasaanku pada Myungsoo…
                “kapan kau akan kembali ke Seoul?”
                “aku tidak tahu…”
                “kenapa seperti itu??”
                “abeoji mendapat pekerjaan tetap disana…”
                “lalu bagaimana dengan dia…??”
                “dia sia…..Myungsoo??”

Menganggukan kepalanya cepat. Aku menarik nafas dalam dalam. Ini tidak akan mudah. Semalaman aku menangis. Tidak, seharusnya aku tidak menangisi ini semua. Seharusnya aku berterimakasih, setidaknya dengan aku pergi dari sisinya aku bisa mmbuang perasanku ini jauh jauh. Bukan melupakannya, karena dia….. akan selalu di hatiku.
                “kau tidak memberitahunya bahwa kau akan pergi? Kau tidak mengungkapkan bahwa seseorang yang selalu member surat itu kau? Kau tidak mengungkapkan perasaanmu padanya? Kalau kau mencin-”
                “Tidak!!” potongku cepat
                “aku tidak akan menemuinya, hatiku akan goyah saat aku menatapnya. Lee Hyeyeon-a…. aku Naeunp kau mengerti diriku. Satu jam lagi aku akan pergi…”


Eomma menatapku dalam dalam. Mengenggam tanganku kuat kuat. Mengelus elus pucuk kepalaku.
                “Aku tau kau mencintainya….”
                “tidak eomma…”
                “aku tidak pernah memaksamu untuk ikut bersamaku Naeun…kau sudah dewasa. Dan eomma tidak akan memarahimu…”

Eomma beranjak dari kursi tunggu airport. Tersenyum padaku lalu berjalan pergi. Aku tidak bisa seperti ini. Aku juga tidak ingin meninggalkan eomma sendiri. Tidak. Tapi aku juga tidak bisa tanpa dirinya. Beranjak dari kursiku. Memantapka hatiku....aku harus percaya pada diriku sendiri…Son Naeun!!

~Your Letter~

Kenangan kenangan itu berputar putar di kepalaku, tentang masa masa dulu hingga bagaimana aku sekarang. Tujuh tahun yang lalu, hatiku benar benar dijungkir balikkan. Dengan beberapa pilihan yang jatuh dan membuat hatiku bimbang. Namun sekarang, aku tahu aku memilih sesuatu yang benar. Tidak ada seonggok penyesalan yang mengganjal lagi.
Lautan Jingga itu semakin lama semakin menghitam bersamaan dengan hilangnya sang surya. Biasan cahayanya sudah menghilang. Kelap kelip bintang perlahan datang berkumpul bagaikan pasukan yang siap berperang.

Sorot mataku menangkap seorang bocah laki laki kecil yang berlari lari kearahku. Bocah dua tahun itu tertawa tawa saat mengetahui seorang laki laki dewasa mengejarnya. Sudut bibirku naik. Tersenyum kearah mereka.
                “umma~” panggil bocah itu. Aku mengulurkan tanganku padanya. Dia tertawa.
                “aaawww….!!” Ringis Myungsoo saat aku cubit lengannya. Laki laki itu, Kim Myungsoo. Mengerucutkan bibirnya –kesal.
                “kenapa kau mengejar SooJin? Ini sudah malam tuan Kim!!” teriakku. SooJin –bocah laki laki yang ada di gendonganku itu tertawa tawa saat melihat ummanya memarahi ayahnya.
                “Naeun-a….SooJin tidak mau makan….” Ujar Myungsoo membela dirinya. “ayolah Naeun~ jangan marah padaku…. Bukankah kau mencintaiku? Kau bahkan mengirim beberapa surat kaleng padaku tujuh tahun yang lalu, kenapa kau sekarang seperti ini…???”
                “mwo??!! Aisshh….” Aku memukul bahunya keras. Dia menyeringai kecil, merebut SooJin dari gendonganku. Berlari menuju rumah tepi pantai kami.

Aku sudah bilang bukan? Aku tidak memilih sesuatu yang salah, sekarang. Aku bisa bersama Myungsoo dan SooJin. Bukankah itu kebahagian dari tuhan yang tiada tara??

***
(Author’s POV)

EPILOG

Laki laki itu membuka surat yang setiap pagi masuk kelokernya itu hati hati.
                “Hatiku diam membeku saat kau tidak mengenali diriku. Kau ada didepanku setiap saat, tertawa bersamaku setiap saat, menghabiskan waktu bersama. Tapi seberapa waktu itu terlewati tidak cukup bagiku untuk mengungkapkan sosokku. Aku takut, aku takut kau akan menghilang –menghindari dariku saat tau perasaan ini….
                Kenapa kau tidak mencoba bertanya pada dirimu sendiri? Terkadang hati akan lebih peka dibanding dengan pikiranmu… Kim Myungsoo.
                Ahh benar, sepertinya aku akan pergi…bukan untuk menghindarimu tapi aku akan mencoba menghilangkan perasaanku ini padamu. Hingga waktunya tiba, saat hati ini tidak tergantung lagi padamu, aku akan menemuimu,…mengungkapkan semuanya padamu…”

Myungsoo menekan dadanya sakit. Bagaikan ditonjok. Nyeri yang ada pada hatinya sungguh membuat dirinya bernafas saja sulit. Surat yang sama. Tapi tidak biasa, surat itu ada pada laci tempat duduknya.
Myungsoo menatap luar dari jendela kelasnya. Dia tahu sejak lama, dia berbohong saat bilang dia tidak mengetahui siapa pengirim surat ini. Surat yang selalu ada di lokernya sejak satu tahun yang lalu. Dia tahu. Hanya ada perasaan takut di dalam hatinya. Dia bingung apakah dia mencintainya atau tidak.

Hyeyeon berlari kearah Myungsoo, menggebrak meja laki laki itu kasar.
                “Myungsoo!! Seharusnya kau tahu….maksudku kau harus tahu semuanya. Surat yang ada di lokermu itu…surat yang setiap hari kau baca….itu…itu dari Naeun….!!”
                “aku tahu…” jawab Myungsoo pendek.
                “m-mwo?? Myungsoo pabo!! Lalu kenapa kau tak mencoba mengejarnya sekarang? Kau tahu sekarang dia mau pergi ke Paris?? Meninggalkan Seoul!!”

Myungsoo beranjak dari kursinya, menatap Hyeyeon dengan tatapan ‘tidak mungkin’ namun Naeunpan itu harus di buang mentah mentah karena ekspresi Hyeyeon benar benar serius. Dia bodoh!! Bukankah Naeun sudah menuliskan di suratnya kalau dia akan pergi??


Laki laki itu berlari, tidak peduli dengan seragam sekolah yang masih melekat di tubuhnya. Menyusuri airport yang tidaklah kecil itu.
                “Pesawat ke Paris, apakah sudah lepas landas..??” tanyanya kalut pada salah satu staff. Staff perempuan itu menganggukkan kepalanya.
                “ya, sekitar lima menit yang lalu….”

Myungsoo berjalan gontai, terlambat. Dia terlambat untuk menyadari perasaannya sendiri. Terlambat untuk menghentikan Naeun. Terlambat untuk mengungkapkan kalau dia juga mencintainya..
                “Myungsoo??”
Bodoh! Bagaimana bisa aku berhalusinasi?? Bahkan mendengar suara Naeun. Pikir Myungsoo. Namun sedetik kemudian dia membalikkan tubuhnya. Pupil matanya membesar saat melihat perempuan itu disana. Son Naeun!!
                “Ha-Naeun? Bagaimana bisa kau…??”
                “mana mungkin aku pergi sebelum aku mengucapkan selamat tinggal padamu??”

Myungsoo berlari kearah Naeun. Menarik tubuh perempuan itu kuat kuat. Lalu menjitak kepala Naeun cukup keras.
                “Yaaa…!! Apa yang kau lakukan…??”
                “Kau! Aku tidak mengijinkanmu mengucapkan selamat tinggal padaku!! Kau harus menemaniku disini, hingga akhirnya tiba aku harus pergi dari dunia ini…”

THE END ^^